Sekedar Info
SELAMAT DATANG DI BLOG SMA NURUL FALAAH
  • New Movies
  • Recent Games
  • Tech Review

Recent Post

Showing posts with label IPTEK. Show all posts
Showing posts with label IPTEK. Show all posts
Wednesday, November 8, 2017
Membangun Karakter Muslim-Muslimah Indonesia Inklusif-Pluralisme

Membangun Karakter Muslim-Muslimah Indonesia Inklusif-Pluralisme

"Pengertian inklusif-pluralisme agama"
ž"Konsep inklusif-pluralis agama dalam Islam"
ž"Peran pendidikan agama dala, menyiapkan generasi Islam inklusif-pluralis"
ž"Upaya menjadi muslim-muslimah inklusif-pluralis
ž
žKASUS BOM BALI
žBom Bali 2002 (disebut juga Bom Bali I)adalah rangkaian tiga peristiwa pengeboman yang terjadi pada malam hari tanggal 12 Oktober 2002.
žDua ledakan pertama terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali, sedangkan ledakan terakhir terjadi di dekat Kantor Konsulat Amerika Serikat, walaupun jaraknya cukup berjauhan.
žRangkaian pengeboman ini merupakan pengeboman pertama yang kemudian disusul oleh pengeboman dalam skala yang jauh lebih kecil yang juga bertempat di Bali pada tahun 2005.
žTercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera, kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi yang merupakan tempat wisata tersebut. Peristiwa ini dianggap sebagai peristiwa terorisme terparah dalam sejarah Indonesia.
žžPeristiwa ini memicu banyak dugaan dan prasangka negatif yang ditujukan kepada lembaga pesantren maupun lembaga pendidikan Islam lainnya, disebabkan banyak masyarakat yang menggeneralisasi lembaga keagamaan dan mencurigai bahwa terjadi pencucian otak di dalam pesantren, walaupun belum ada bukti signifikan yang ditemukan atas isu tersebut.
Pembakaran gereja
žPembakaran Gereja di Temanggung terjadi pada Selasa (8/2/2011). Dalam insiden ini sebanyak tiga Gereja dirusak. Dua di antaranya hangus terbakar. Menurut informasi Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Ketut Untung Yoga yang dikutip dari situs Rakyat Merdeka, menyebutkan bahwa pembakaran itu dipicu oleh oknum masyarakat dari Duren Samit Jakarta Timur, Antonius Richmond Bawengan.
ž
Pembakaran masjid
Sebuah Mesjid yang terletak di wilayah Sumatera Utara dibakar habis oleh orang tidak dikenal. Mesjid Syeikh Ali Martaib yang terletak di Desa Lumban Lobu, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Utara dibakar pada akhir Juli 2010 lalu. Menurut laporan, mesjid ini telah tiga kali dibakar secara sengaja. Masjid berusia ratusan tahun tersebut dibakar pertama kali pada tahun 1986, saat itu Mesjid masih bernama Mesjid Fii Sabilillah, dibakar sleuruh karpet dan sajadah yang berada di dalamnya. Di tahun 2009 kembali terjadi pembakaran, yaitu pembakaran mushaf-mushaf Al-Qur’an dan buku-buku keagamaan hingga mengenai Mihrab mesjid. Lalu terakhir pada 27 Juli 2010 lalu, Mesjid ini dibakar sekitar pukul 5.00 pagi ba’da Shubuh oleh orang tak dikenal

žPenyerangan dan pembakaran pesantren
žAda hal yang menarik pasca peristiwa penyerangan Pesantren Syi’ah di Sampang, Madura Kamis (29/12/2011) yang lalu. Yaitu pendapat pucuk pimpinan dua ormas utama kelompok Sunni dan Syi’ah di Indonesia, keduanya sama-sama berpendapat ada aktor intelektual di balik peristiwa tersebut, yang bermaksud mengadu domba pengikut Sunni dan Syi’ah. Hal itu sama-sama diungkapkan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Agil Siraj, dan juga oleh Ketua Dewan Syura Ikatan Jama’ah Ahlulbait Indonesia (IJABI), organisasi yang mengayomi penganut madzhab Syi’ah di Indonesia, Jalaluddin Rakhmat.
žMenanggapi kejadian itu, KH Said Agil Siraj menduga bahwa ada skenario besar di balik aksi penyerangan terhadap pesantren penganut Syiah tersebut. Menurut Kiyai Said, mustahil peristiwa tersebut terjadi tanpa ada pihak yang sengaja membuatnya. Karena kerukunan hidup beragama antara warga Sunni dan Syi’ah di daerah itu sebelumnya baik-baik saja.
Tindakan penyerangan dan pembakaran pesantren Syiah itu diduga kuat dilakukan oleh sekelompok orang yang sudah diprovokasi oleh pihak tertentu dengan tujuan merusak kondisi damai tersebut. “Ini pasti ada big design-nya. Ada pihak-pihak yang ingin merusak suasana damai di Indonesia,” ujar Kiyai Said di Jakarta, pada hari Sabtu (31/12/2011).

žžžUraian materi
ž 
Pengertian inklusif-pluralisme agama
žInklusif-Ekslusif berasal dari Bahasa Inggris “inclusive” yang artinya “termasuk di dalamnya”
žIslam inklusif atau Islam rasionalis merupakan sekelompok orang yang menganut pandangan bahwa semua agama-agama yang ada memiliki kebenaran dan memberikan manfaat atas keselamatan bagi para penganutnya
žPluralisme agama berasal dari dua kata, “pluralisme” dan “agama”
žPluralism berasal dari kata’pliral’ yang berarti lebih dari satu atau banyak dan berkenaan dengan keanekaragaman.
žžžPluralisme adalah paham atau sikap terhadap kemajemukan, baik dalam konteks sosial, budaya, politik maupun agama.
žKata ‘agama” dalam agama Islam diistilahkan dengan ‘din’ yang secara bahasa berarti tunduk, patuh, taat, jalan.
žPluralisme agama adalah kondisi hidup bersama antarpenganut agama yang berbeda-beda dalam satu komunitas dengan tetap mempertahankan ciri-ciri spesifik ajaran masing-masing
ž
žInklusif-pluralisme agama adalah sikap terbuka dalam beragama dan mengakui adanya lebih dari satu agama yang mempunyai eksistensi hidup berdampingan, saling bekerja sama dan saling berinteraksi antarpenganut agama, setiap penganut agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan menghormati hak agama lain, tetapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan guna tercapainya kerukunan dalam keragaman.
žDalam prespektif sosiologi agama, secara terminologi, inklusif-pluralisme agama adalah suatu sikap mengakui dan menerima kenyataan kemajemukan sebagai yang bernilai positif dan merupakan ketentuan dan rahmat Tuhan kepada manusia
ž
žžSikap terbuka akan berdampak pada relasi sosial yang bersifat sehat dan harmonis antarsesama warga masyarakat. Konsep inklusif-pluralis yang dilandasi toleransi ini tidak berarti bahwa semua agama dipandang sama. Sikap toleran hanyalah suatu sikap penghormatan akan kebebasan dan hak setiap orang untuk beragama. Perbedaan agama tidak boleh menjadi penghalang untuk saling menghormati, menghargai, dan bekerjasama.
ž
Konsep inklusif-pluralis agama dalam Islam
žKonsep inklusif-pluralisme agama sejak awal sudah ada dalam agama Islam. Ia merupakan bagian prinsip dasar dari agama Islam itu sendiri. Agama Islam yang bervisi rahmatan lil-’alamin memandang inklusif-pluralisme atau keragaman dalam beragama merupakan rahmat dari Allah, yang harus diterima oleh semua umat manusia, karena pluralisme adalah bagian dari otoritas Allah (sunnatullah) yang tidak dapat dibantah oleh manusia.
žTeologi inklusif yang dikandung dalam ajaran Islam menganut prinsip-prinsip moderat.
žPenegakkan kebenaran seharusnya dilakukan dengan jalan kebenaran, bukan kekerasan.
žSikap menghormati agama lain merupakan perwujudan dari sikap moderat
žTeologi Islam yang inklusif adalah rahmatan lil ‘alamin
žžIslam adalah agama universal yang menjunjung tinggi aspek-aspek kemanusiaan, persamaan hak dan mengakui pluralisme agama
žPluralisme agama menurut Islam adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, tidak mungkin dilawan atau diingkari
žNabi Muhammad diutus dengan misi universal rahmatallila’alamin
žžžIslam melarang untuk merendahkan agama lain
žAgama Islam tidak mempersoalkan mengenai asal ras, etnis, suku, agama dan bangsa.
žAgama Islam adalah agama damai yang sangat menghargai, toleran, dan membuka diri terhadap pluralisme agama.
ž
Landasan Pluralisme  agama
žSurat al-Kafirun ayat 6:
لكم دينكم ولى دين
žSurat  Hud ayat 118:
ž
ولو شاء ربك لجعل الناس أمة واحدة ولا يزالون مختلفين
žSurat al-Baqarah ayat 256:
لااكراه فى الدين
ž 
Tujuan pendidikan:
•Pandangan Hidup
•Sikap Hidup
•Keterampilan Hidup
žPeran pendidikan
1. Proses pembudayaan/ enculturation
2. Simbol peradaban
3. Mewariskan nilai
ž
PERAN PAI DALAM MENYIAPKAN GENERASI ISLAM INKLUSIF-PLURALIS
1. žPAI memiliki kewajiban untuk melestarikan, dan menanamkan nilai-nilai ajaran Islam serta menanamkan karakter budaya nasional Indonesia dan budaya global.
ž2. Mencetak generasi bangsa yang memiliki sikap-sikap pluralisme.
ž3. Sebagai alat kontrol manusia dalam berperilaku keseharian.
ž4. Menghapus sikap primordialisme dan eksklusifisme kelompok agama  dan budaya
ž
žžBAGAIMANA pendidikan Agama Islam dikembangkan dalam konteks pluralitas agama & keragaman budaya???
ž1. Pendidikan Agama Islam (PAI) bukan sekedar pengajaran agama
ž2. Parameter keberhasilan PAI tidak dapat diukur dari segi kognitif yang dinyatakan dengan angka
ž3. PAI ditekankan pada penanaman nilai-nilai keagamaan yang terwujud dalam perilaku keseharian
ž4. PAI diselenggarakan dengan tujuan bukan hanya melatih pikiran, melainkan melatih seluruh wujud pribadi peserta didik.
žžž5. PAI harus mengembangkan sikap pluralisme pada peserta didik
ž6. PAI harus menampilkan ajaran-ajaran Islam yang toleran melalui kurikulum pendidikannya.
ž7. PAI didesain dengan berbasis multikultur dan inklusif
ž
žUpaya menjadi muslim-muslimah inklusif-pluralis
ž1. Adanya kesadaran Islam yang sehat; akan mampu melihat dengan jernih sisi kebenaran yang terdapat dalam agama lain karena semua agama mempunyai nilai-nilai kebenaran yang bersifat universal; tidak fanatik yang berlebihan; selalu membuka diri dengan orang lain walaupun berbeda agama.
2. Amar ma’ruf nahi mungkar; memberi peluang bagi tumbuhnya kebebasan berfikir dan mendorong terwujudnya kondisi demokratis. Jika amar ma’ruf nahi munkar tidak berjalan, maka akan sangat mungkin tumbuhnya kemungkaran yang tidak terhitung, tanpa ada yang berani mengkritik dan reformasi sosial. Kondisi ini akan melahirkan sikap anti pluralisme. Sayangnya konsep amar ma’ruf nahi munkar sering dipahami secara keliru dan bahkan melawan pluralisme dengan tindakan kekerasan. Ini jika amar maruf nahi munkar berada di tangan orang-orang totaliter yang memeliki jargon “satu kata” hanya mereka yang benar sedangkan orang lain salah. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan (sebaliknya dengan hikmah—arif bijaksana–,uswatun hasanah, mau’idhah hasanah). Agama seharusnya dapat mendorong umatnya untuk menegakkan perdamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, bukan sebaliknya dijadikan tameng untuk mengeksekusi penganut agama lain. Inilah penistaan agama.
ž3. Dialog antarumat beragama. Salah satu faktor penyebab terjadinya konflik keagamaan adalah adanya paradigma keberagamaan masyarakat yang masih eksklusif (tertutup), ini dapat membentuk pribadi yang antipati terhadap pemeluk agama lainnya. Dengan dialog akan memperkaya wawasan kedua belah pihak dalam rangka mencari persamaan-persamaan yang dapat dijadikan landasan hidup rukun dalam suatu masyarakat, yaitu toleransi dan pluralisme.
Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Bom_Bali_2000
http://www.google.co.id/search?q=pembakaran+gerejaž
http://arrahmah.com/read/2010/08/21/8843-pembakaran-mesjid-terjadi-di-sumatera-utara-luput-dari-perhatian-media-nasi.html
http://www.tempo.co/read/news/
KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER MENURUT ISLAM

KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER MENURUT ISLAM


Konsep Dasar Pendidikan Karakter Menurut Islami


Konsep Dasar Pendidikan Karakter Islami

Pengertian dan Tujuan

Dasar pembentukan karakter manusia
Urgensi pembentukan karakter bangsa
Urgensi pembentukan karakter Islami

Apa Itu Karakter?
karakter secara harfiyah berasal dari bahasa Latin “character”, yang berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak.
Secara istilah karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya di mana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Jadi karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat-istiadat.
Karakter = akhlak dan budi pekerti. Karakter bangsa identik dengan akhlak bangsa/budi pekerti bangsa. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berakhlak dan berbudi pekerti, sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku yang baik.
Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah penanaman nilai esensial dengan  pembelajaran dan pendampingan sehingga para siswa sebagai individu mampu memahami, mengalami, dan mengintegrasikan nilai yang menjadi core values ke dalam kepribadiannya. Pendidikan karakter dalam grand desain pendidikan karakter, adalah proses pembudayaan dan pemberdayaan nilai-nilai luhur dalam lingkungan satuan pendidikan (sekolah), lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat
Pendidikan karakter dalam Islam dapat dipahami sebagai upaya penanaman kecerdasan kepada anak didik dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, antarsesama, dan lingkungannya sebagai manifestasi hamba dan khalifah Allah
Manifestasi hamba dan khalifah-Nya
Sesuai dengan al-Dhariyat (51): 56; al-Bayyinah (98): 5;dan al-Baqarah (2): 30.
Maka hanya orang yang bertakwalah yang mampu menunjukkan sebagai pribadi hamba dan khalifah Allah.
Jadi, tujuan pendidikan karakter Islami: menjadikan anak didik sebagai hamba dan khalifah Allah yang berkualitas taqwa. Pekerjaan atau aktifitas taqwa meliputi semua bidang mulai dari keyakinan hidup, ibadah, moralitas, aktifitas interaksi sosial, cara berfikir, hingga gaya hidup.
Indikator orang berkualitas taqwa menurut al-Qur’an:
1.Memiliki keyakinan yang membara dan kuat bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu (QS. 2: 3)
2.Memiliki perspektif jangka panjang. Kebiasaan memandang jauh ke depan sehingga menjadi pribadi yang proaktif (QS. 59: 18)
3.Memiliki obsesi dan cita-cita yang sangat tinggi. Berambisi menjadi orang yang berilmu dan berharta untuk didayagunakan di jalan kebaikan untuk mencapi ridho Allah (QS. 2: 218)
4.Mempunyai speed dalam berprestasi; selalu mengejar mutu pada semua aspek kepribadian; keunggulan dan kesempurnaan selalu menjadi standar dalam meningkatkan kualitas diri, sehingga peluang besar menuju kesuksesan akan dapat diraih (QS. 3: 153; QS. 5: 48)
5.Selalu berobsesi menjadi yang terdepan. Siap memasuki medan kompetisi dalam kebaikan secara sehat dan konstruktif. Dunia dijadikan sarana mengabdi dan mendekat kepada Allah dan berbuat amal kebaikan kepada sesama. Orang yang bertaqwa tidak layak bekerja, berusaha, berprestasi seadanya, tanpa greget, tanpa target, dan tanpa kualitas unggul (QS. 5: 48; QS. 23: 61)
6.Waktu-waktunya efektif dan produktif; membiasakan bekerja dengan tingkat efesiensi, efektifitas, dan produktifitas tinggi. Meninggalkan segalaperkataan dan tindakan yang tidak bermanfaat (QS. 23: 1 dan 3)
7.Memiliki semangat kolektif dan kolaboratif. Kebersamaan, sinergi, dan harmoni menjadi watak kehidupan sebagaimana alam ini diciptakan. Mewujudkan keunggulan dalam kebaikan akan mudah diraih dengan kemampuan bekerjasama dan tolong menolong dengan sesama (QS. 5: 3)
Dasar Pembentukan Karakter
Sifat dasar manusia yang diberikan Allah adalah sifat fujur (cenderung kepada keburukan/kefasikan) dan sifat taqwa (cenderung kepada kebaikan), sebagaimana QS. Al-Shams, 91: 7-8. kedua sifat inilah yang menjadi dasar pembentukan karakter (nilai baik atau buruk). Nilai baik disimbolkan dengan nilai malaikat dan nilai buruk disimbolkan dengan nilai setan. Karakter manusia adalah hasil tarik menarik antara kedua nilai tersebut dalam bentuk energi positif dan negatif.
Energi positif berupa nilai-nilai etis religius yang bersumber dari keyakinan terhadap Tuhan, sebaliknya energi negatif berupa nilai-nilai a moral yang bersumber dari taghut (setan). Nilai etis berfungsi sebagai sarana pemurnian, penyucian dan pembangkitan nilai-nilai kemanusiaan yang sejati (hati nurani).
Energi Positif, berupa:
1.Kekuatan spiritual; iman, islam, ihsan, dan taqwa untuk mencapai ahsani taqwim (makhluq etis dan kemanusiaannya yang hakiki)
2.Kekuatan kemanusiaan positif; aqlu as-salim, qalbun salim, qalbun munib (hati yang kembali, bersih, suci dari dosa), dan nafsu mutmainnah (jiwa yang tenang). Kesemuanya merupakan modal insani/SDM yang memiliki kekuatan luar biasa.
3.Sikap dan perilaku etis (merupakan implementasi dari kekuatan spiritual dan kepribadian manusia, berupa; istiqamah (integritas), ihlas, jihad, dan amal salih.
Energi positif ini dalam perspektif individu akan melahirkan orang yang berkarakter, yi orang yang bertaqwa, berintegritas (nafsu mutmainnah), dan beramal shalih. Aktualisasi orang berkualitas ini dalam hidup dan bekerja akan melahirkan akhlaq yang luhur karena memiliki personality (integritas, komitmen dan dedikasi), capacity (kecakapan), dan competency yang bagus pula (profesional)
Energi Negatif; disimbolkan dengan kekuatan materialistik dan nilai-nilai thaghut (nilai-nilai destruktif) yang fungsinya sebagai pembusukan dan penggelapan nilai-nilai kemanusiaan. Berupa:
1.Kekuatan taghut; kufr, munafiq, fasik, dan shirik. Kekuatan yang menjauhkan manusia dari ahsani taqwim menjadi makhluk yang serba material (asfala safilin)
2.Kekuatan kemanusiaan negatif; pikiran jahiliyyah (pikiran sehat), qalbun marid (hati sakit, tidak merasa), qalbun mayyit (mati, tidak bernurani), dan nafsu al-lawwamah, yang menjadikan manusia menghamba pada ilah-ilah selain Allah berupa harta, seks, dan kekuasaan (taghut).
3.Sikap dan perilaku tidak etis (implementasi kedua kekuatan yang dapat melahirkan konsep-konsep normatif tentang nilai-nilai budaya busuk. Meliputi: takabbur, hubb ad-dunya (materialistik), zalim, dan a’mal as-sayyi`at (destruktif)
Akan melahirkan pribadi berkarakter buruk, yang puncak keburukannya meliputi shirik, nafs lawwamah, dan a’mal sayyiat. Aktualisasinya melahirkan perilaku tercela, yi orang yang berkepribadian tidak bagus (hipokrit, penghianat, dan pengecut) dan tidak mampu mendayagunakan kompetensi yang dimiliki.
Urgensi Pendidikan Karakter Bangsa
1.Memudarnya nasionalisme dan jati diri bangsa
2.Merosotnya harkat dan martabat bangsa
3.Mentalitas bangsa yang buruk
4.Krisis multidimensional
5.Degradasi moral perusak karakter bangsa
Memudarnya nasionalisme dan jati diri bangsa
Nasionalisme:  cinta tanah air, bangsa, dan negara; rela berjuang dan berkorban untuk kejayaannya; ada heroisme, altruisme dan patriotisme; mengesampingkan individualisme, hedonisme, dan sparatisme.
Indikator:
1.Berkembangnya individualisme, hedonisme, terorisme dan sparatisme;
2.untuk berebut menjadi pejabat/PNS/dll harus menyuap (bukan abdi negara, tapi penghianat, bukan pejuang tapi pecundang);
3.munculnya sparatisme, terorisme, dan berkembangnya ideologi trans-nasional yang mengingkari paham kebangsaan, cinta tanah air dan negara;
4.enggan memakai produksi dalam negeri.
Merosotnya harkat dan martabat bangsa
Indonesia sejatinya bangsa dan negara besar serta berpredikat positif, namun semua itu sirna karena predikat baru yang negatif seperti terkorup, bangsa yang soft nation, malas, sarang teroris, hilang keramah-tamahannya, banyak kerusuhan, banyak bencana, dls.
Fenomena lain: “menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa” atau menjadi bangsa pengemis dan pengemis di antara bangsa-bangsa”. Faktanya, Indonesia negara pengekspor kuli/babu/tenaga kasar/unskill terbesar (mendatangkan devisa, tapi madharatnya lebih besar)
Mentalitas bangsa yang buruk
Indonesia memiliki modal/kekuatan yang memadai untuk menjadi bangsa besar dan negara yang kuat; luas wilayah,jumlah penduduk, kekayaan alam, kekayaan budaya, kesatuan bahasa, ketaatan pada ajaran agama, dan sistem pemerintahan republik yang demokratis. Namun semua itu tak akan ada arti jika mentalitas bangsanya belum terbangun dan belum berubah ke arah yang lebih baik. Mentalitas penghambat tersebut di antaranya: malas, tidak disiplin, suka melanggar aturan, aji mumpung, suka menerabas, dan nepotisme.
Media yang ampuh untuk merubah mentalitas bangsa adalah pendidikan dan keyakinan agama. Pendidikan? Pendidikan yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, bukan sekedar formalitas atau kepura-puraan. Pendidikan agama yang mampu menanamkan keimanan yang benar, ibadah yang benar dan akhlakul karimah, niscaya menjadikan anak didik sebagai manusia terbaik, yaitu yang bermanfaat dengan amal shalihnya.
Krisis multidimensional
Permasalahan Indonesia: konflik sosial, sering mengedepankan kekerasan dalam memecahkan masalah, praktik korupsi yang semakin canggih dan massif, perkelahian antar pelajar-mahasiswa-warga-anggota dewan, pelanggaran etika dan susila yang semakin vulgar, munculnya aliran yang dianggap sesat dan cara peyelesaiannya yang cebderung menggunakan kekerasan, tindak kejahatan yang mengancam ketentraman, praktek demokrasi liberal yang ekstrem dalam berbagai aspek kehidupan yang bertabrakan dengan nilai-nilai kepatutan sebagai bangsa Timur dan bangsa yang religius.
Sebagai bangsa muslim terbesar, masalahnya banyak muslim Indonesia yang belum at home sebagai Bangsa Indonesia. Mereka tidak menerima negara pancasila, dan tidak memiliki kemampuan dan keterampilan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Dampaknya masih kuat ekslusifitas, maraknya gerakan umat yang kontra produktif, seperti terorisme, gerakan bawah tanah yang bertujuan mengganti bentuk negara, berbagai bentuk pembangkangan dan perlawanan terhadap negara dan pemerintahan yang sah. Akibatnya berangkai, sangat luas, dan kontra produktif bagi bangsa-negara dan umat Islam sendiri.
Permasalahahn di bidang pendidikan…diperparah dengan tayangan televisi yang sangat vulgar, life, dan tidak mengenal waktu tayang. Tindakan memfitnah, memperolok, menghin, mengadu domba, pembunuhan karakter juga difasilitasi oleh media.
Satu kata: Prihatin!
Bagaimana kualitas generasi muda di amsa depan?
Citra dan daya saing bangsa yang semakin rendah dan direndahkan
Stigma muslim yang diidentikkan dengan teroris, anti intelektual, dan anti peradaban
Krisis etika dan moral
Bisa korupsi dianggap prestasi
Penipuan dianggap lumrah asalkan tidak keterlaluan
Hilangnya budaya malu (marwah)
Jujur ajur
Berbohong biasa
Hilangnya keperawanan tidak lagi disesalkan
Politik uang untuk membeli kekuasaan
Berbudi bahasa yang santun dianggap kelemahan dan gak gaul
Agama tidak lagi dipedomani sebagai akhlak melainkan sebagai alat kepentingan dan kekuasaan, dan
Bahasa kekerasan adalah bahasa kekuasaan dan ketertindasan
Degradasi moral perusak karakter bangsa
Eksistensi, kemuliaan dan kejayaan suatu bangsa tergantung akhlaknya. Demikian juga keterpurukan, kehinaan, dan kehancurannya.
Menurut psikolog dan ahli pendidikan AS, Thomas Lichona tanda-tanda degradasi moral:
Meningkatnya kekerasan pada remaja
Penggunaan kata-kata memburuk
Pengaruh peer group (rekan kelompok) yang kuat dalam tindak kekerasan
Meningkatnya penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas
Kaburnya batasan moral baik-buruk
Menurunnya etos kerja
Rendahnya rasahormat kepada orang tua dan guru
Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara
Membudayanya ketidakjujuran
Adanya saling curiga dan kebencian di antara sesama.
Urgensi Pendidikan Karakter Islami
1.Umat muslim merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Baik-buruknya Indonesia pasti berdampak pada muslim.
2.Kesenjangan antara muslim cita dan muslim fakta
3.Mengawinkan antara keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan. Mengawinkan ketiganya, seorang muslim akan memiliki tiga kesadaran: kesadaran ideal (keislaman), kesadaran tempat (keindonesiaan), dan kesadaran waktu (kemodernan), diharapkan muslim akan memiliki kearifan, kemuliaan, dan kejayaan.
4.Etika dan moral Islam adalah moralitas agama yang mengarahkan manusia berbuat baik antar sesamanya agar tercipta masyarakat yang baik dan teratur. Berislam yang tidak membuahkan akhlak adalah sia-sia. Menurut Raghib al-Asfahani, etika Islam berbentuk ethical individual social egoism dalam motivasi moral. Maksudnya, etika sosial Islam tidak hendak memasung otoritas individu untuk sosial (paham komutarianisme) atau mengorbankan sosial untuk individu (paham universalisme). Etika Islam harus berlandaskan cita-cita keadilan dan kebebasan individu untuk melakukan kebaikan sosial.
Kesenjangan antara muslim cita dan fakta
Dalam perspektif pembangunan, ada 3 kelompok muslim:
1.Muslim berideologi Islam politik; menjadikan Islam iseologi politik, bertujuan mendirikan negara Islam/khilafah islamiyyah, biasanya bersifat radikal, tidak merasa menjadi Indonesia, sedikit kontribusinya bagi pembangunan, sebaliknya merongrong kedaulatan RI
2.Muslim mistik; disibukkan dengan urusan ritual keagamaan bahkan yang bersifat mistik, tidak mempersoalkan keindonesiaan tetapi juga tidak memberikan kontribusi yang berarti dan tidak juga membahayakan negara
3.Muslim moderat; muslim ideal karena berprinsip keseimbangan antara urusan dunia-akhirat, selalu berusaha menjadi ummatan wasathan, di mana pun berada berusaha memberi manfaat. Ciri muslim moderat: at home di Indonesia, mencintai, berjuang dan rela berkorban untuk bangsa dan negara, dan memberi kontribusi bagi pembangunan.
Ketiganya masih ada, bahkan muslimpolitik semakin menguat pasca reformasi. Dalam konteks pembangunan karakter bangsa, diarahkan untuk menjadi muslim moderat/ideal.
Copyright © 2015 SMA NURUL FALAAH All Right Reserved
Designed by Free Download Info