Sekedar Info
SELAMAT DATANG DI BLOG SMA NURUL FALAAH
  • New Movies
  • Recent Games
  • Tech Review

Recent Post

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Thursday, November 9, 2017
Pengertian, Fungsi dan Instrumen Pasar Modal

Pengertian, Fungsi dan Instrumen Pasar Modal


Pengertian Pasar Modal 

Pasar modal (capital market) adalah pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang, ekuitas (saham), instrumen derivatif, maupun instrumen lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain (misalnya pemerintah) dan sarana bagi kegiatan berinvestasi (Darmadji dan Fakhruddin, 2006:1).

Berdasarkan Undang-undang Pasar Modal Republik Indonesia Nomor 8 tahun 1995 Pasal 1 butir 13: Pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan potensi yang berkaitan dengan efek.

Berikut ini beberapa pengertian pasar modal dari beberapa sumber:

  1. Menurut Situmorang (2008:3), pasar modal adalah perdagangan instrumen keuangan (sekuritas) jangka panjang, baik dalam bentuk modal sendiri (stocks) maupun utang (bonds), baik yang diterbitkan oleh pemerintah maupun oleh perusahaan swasta. 
  2. Menurut Sunariyah (2006:4), pasar modal adalah suatu pasar (tempat, berupa gedung) yang disiapkan guna memperdagangkan saham-saham, obligasi-obligasi, dan jenis surat berharga lainnya dengan memakai jasa para perantara pedagang efek. 
  3. Menurut Husnan (2003:3), pasar modal adalah pasar untuk berbagai instrumen keuangan (sekuritas) jangka panjang yang dapat diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang maupun modal sendiri. Baik itu diterbitkan oleh pemerintah, public authorities, maupun perusahaan swasta.
  4. Fungsi Pasar Modal 
  5. Pasar modal merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli efek dengan risiko untung dan rugi. Pada hakikatnya pasar modal mempunyai dua fungsi pasar, yaitu (Tandelilin, 2001:13):
  6. Lembaga perantara yang menunjukkan peran penting dalam menunjang perekonomian karena pasar modal dapat menghubungkan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang mempunyai kelebihan dana.
  7. Mendorong terciptanya alokasi dana yang efisien, karena dengan adanya pasar modal maka pihak yang kelebihan dana (investor) dapat memilih alternatif investasi yang memberikan return yang optimal.

Fungsi pasar modal pada suatu negara adalah sebagai berikut (Sunariyah, 2006:7):
  1. Sebagai fasilitas melakukan interaksi antara pembeli dengan penjual untuk menentukan harga saham atau surat berharga yang diperjualbelikan belikan. 
  2. Memberikan kesempatan kepada para pemodal untuk menentukan hasil (return) yang diharapkan.
  3. Memberikan kesempatan kepada investor untuk menjual kembali saham yang dimilikinya atau surat berharga lainnya.
  4. Menciptakan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam perkembangan suatu perekonomian. 
  5. Mengurangi biaya informasi dan transaksi surat berharga.

Sedangkan menurut Rusdin (2008:2-3), fungsi pasar modal adalah sebagai berikut:
  1. Pasar modal merupakan wahana pengalokasian dana secara efisien. 
  2. Pasar modal sebagai alternatif investasi. 
  3. Pasar modal memungkinkan para investor untuk memiliki perusahaan yang sehat dan berprospek baik.
  4. Pelaksanaan manajemen perusahaan secara profesional dan transparan.
  5. Peningkatan aktivitas ekonomi nasional.

Instrumen Pasar Modal 

Instrumen Pasar Modal adalah semua surat berharga (efek) yang secara umum diperjualbelikan melalui Pasar Modal. Menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, efek adalah setiap surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, sekuritas kredit, tanda bukti utang, setiap right, waran, opsi, atau derivatif dari efek, atau setiap instrumen yang ditetapkan sebagai efek.

Umumnya sekuritas yang diperdagangkan di pasar modal meliputi saham, obligasi, reksadana dan instrumen derivatif. Berikut penjelasan beberapa instrumen pasar modal (Tandelilin, 2001:18):

a. Saham 

Saham merupakan surat tanda bukti kepemilikan atas aset-aset perusahaan dalam bentuk PT. Saham merupakan salah satu jenis sekuritas yang paling populer di pasar modal. Dengan memiliki saham, investor akan memperoleh dividen dan dapat memanfaatkan fluktuasi harga saham dengan menjual saham tersebut untuk memperoleh keuntungan yang dinamakan capital gain.

b. Obligasi 

Obligasi merupakan sertifikat yang berisi kontrak antara investor dan perusahaan, yang menyatakan bahwa investor sebagai pemegang obligasi telah meminjamkan sejumlah uang kepada perusahaan (emiten). Perusahaan yang menerbitkan obligasi mempunyai kewajiban untuk membayar bunga secara reguler sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan serta pokok pinjaman pada saat jatuh tempo.

c. Reksadana 

Reksadana adalah sertifikat yang menjelaskan bahwa pemiliknya menitipkan sejumlah dana kepada perusahaan reksadana untuk dikelola oleh manajer investasi profesional, agar digunakan sebagai modal berinvestasi baik di pasar modal maupun di pasar uang.

d. Instrumen derivatif 

Instrumen derivatif merupakan sekuritas turunan dari suatu sekuritas lain, sehingga nilai instrumen derivatif sangat tergantung dari harga sekuritas lain. Ada beberapa jenis instrumen derivatif, diantaranya waran, bukti right (right issue), opsi dan future.

Daftar Pustaka

  • Darmadji, T dan Fakhrudin M.H. 2006. Pasar Modal di Indonesia Pendekatan Tanya Jawab. Jakarta: Salemba Empat.
  • Situmorang, Paulus. 2008. Pengantar Pasar Modal, Edisi Pertama. Jakarta: Mitra Wacana Media.
  • Sunariyah. 2006. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Edisi Kelima. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
  • Husnan, Suad. 2003. Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas Edisi Ketiga. Yogyakarta: BPFE.
  • Tandelilin, Eduardus. 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.
  • Rusdin. 2008. Pasar Modal: Teori, Masalah, dan Kebijakan dalam Praktik. Bandung: ALFABETA.
Pengertian dan Bentuk Mobilitas Sosial

Pengertian dan Bentuk Mobilitas Sosial

Pengertian Mobilitas Sosial
 
Mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan seseorang atau kelompok anggota masyarakat dari status sosial yang satu ke status sosial yang lainnya dalam suatu struktur sosial pada masyarakat. Mobilitas sosial mempunyai kaitan yang erat dengan stratifikasi sosial atau pelapisan sosial, mengingat mobilitas sosial merupakan gerak pindah dari suatu lapisan ke lapisan yang lainnya, baik dari bawah ke atas maupun dari atas ke bawah.
Dalam hal ini, masyarakat dengan kelas sosial yang bersifat terbuka merupakan masyarakat yang memiliki tingkat mobilitas sosial yang tinggi, sedangkan masyarakat yang berkelas sosial tertutup memiliki tingkat mobilitas sosial yang rendah. Hal ini mengingat pada masyarakat dengan kelas sosial tertutup sangat sedikit sekali, bahkan tidak memungkinkan terjadinya perpindahan anggota dari satu lapisan ke lapisan yang lain.
Namun demikian, tidak menutup kemungkinan mobilitas sosial terjadi dalam konteks diferensiasi sosial, yaitu perpindahan penduduk secara horizontal yang tidak menunjukkan tingkatantingkatan. Dalam diferensiasi sosial akan terjadi pula mobilitas anggota kelompok, meskipun tidak seperti yang terjadi dalam stratifikasi sosial. Misalnya perpindahan penduduk dari desa ke kota atau yang dikenal dengan istilah urbanisasi.
Bentuk-Bentuk Mobilitas Sosial - Dalam kehidupan sosial budaya di masyarakat, kita mengenal tiga bentuk mobilitas sosial, yaitu mobilitas fisik, mobilitas horizontal, dan mobilitas vertikal.
a. Mobilitas Fisik (Physical Mobility)
Mobilitas fisik memberi kemungkinan dan kesempatan kepada seseorang untuk memindahkan tempat kediaman dalam hubungannya dengan alat-alat transportasi dan lalu lintas modern. Artinya, dengan adanya alat-alat transportasi dan lalu lintas modern, akan memberikan kemudahan anggota masyarakat untuk melakukan perpindahan dari satu daerah ke daerah lain. 
Akibatnya, akan terjadi proses-proses asimilasi dan akulturasi yang selanjutnya akan membawa pengaruh tertentu, misalnya kita sering tidak mengenal latar belakang sosial dari seorang pendatang baru. Contohnya, dengan adanya alat transportasi dan lalu lintas mutakhir, seperti pesawat terbang, kereta api cepat atau yang lainnya, merangsang pemikiran seseorang untuk melakukan perpindahan secara fisik dari satu tempat ke tempat lainnya.
b. Mobilitas Horizontal (Horizontally Mobility)
Menurut Soerjono Soekanto, mobilitas horizontal dapat diartikan sebagai perpindahan individu atau objek-objek sosial lainnya dari suatu kelompok ke kelompok lainnya yang sederajat. Atau dapat dikatakan pula sebagai perpindahan status sosial yang dialami seseorang atau sekelompok warga secara mendatar dalam lapisan sosial yang sama. 
Mobilitas sosial horizontal ini memberi kemungkinan perubahan dalam pekerjaan dan atau kedudukan yang tidak bersifat sebagai suatu pergeseran dalam hierarki sosial. Ciri utama mobilitas sosial horizontal adalah lapisan sosial yang ditempati tidak mengalami perubahan.
Dalam masyarakat, kita mengenal dua bentuk mobilitas horizontal, yaitu mobilitas horizontal intragenerasi dan mobilitas horizontal antargenerasi.

  1. Mobilitas horizontal intragenerasi adalah mobilitas horizontal yang terjadi dalam diri seseorang. Misalnya seorang dosen sebuah perguruan tinggi swasta yang ingin memperbaiki nasibnya. Ia mencoba mengikuti serangkaian tes untuk diterima sebagai dosen di perguruan tinggi negeri. Setelah melewati beberapa tahapan tes, akhirnya ia diterima dan menjadi dosen di perguruan tinggi negeri.
  2. Mobilitas horizontal antargenerasi adalah mobilitas horizontal yang terjadi dalam dua generasi atau lebih. Misalnya, Sukardono adalah seorang anggota TNI dengan pangkat mayor, yang dapat digolongkan ke dalam lapisan menengah. Sedangkan Munaf, anaknya, tidak mau mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang anggota TNI, dan lebih memilih menjadi seorang dosen di perguruan tinggi negeri yang berada pada lapisan menengah pula. Perubahan dari pekerjaan sang ayah sebagai anggota TNI dengan pangkat mayor ke anaknya sebagai seorang dosen perguruan tinggi negeri merupakan bentuk mobilitas horizontal antar generasi yang dapat kita temui di masyarakat.
c. Mobilitas Vertikal (Vertically Mobility)
Mobilitas vertikal adalah sebuah peralihan individu atau objek-objek sosial dari suatu kedudukan sosial ke kedudukan sosial lainnya yang tidak sederajat. Mobilitas vertikal ini memberi kemungkinan terjadinya pergeseran status, baik ke atas maupun ke bawah.
Macam-Macam Mobilitas Vertikal
Berdasarkan penjelasan tersebut, sesuai dengan arahnya kita dapat membedakan mobilitas vertikal atas mobilitas vertikal naik dan mobilitas vertikal turun.
a. Mobilitas vertikal naik (social climbing atau upward mobility) 
adalah peralihan individu atau objek-objek sosial menuju pada tingkat yang lebih tinggi. Adapun yang menjadi ciri-ciri mobilitas ini adalah sebagai berikut.

  • Masuknya individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi.
  • Pembentukan kelompok baru, yang kemudian ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi dari kedudukan individu pembentuk kelompok tersebut.

b. Mobilitas vertikal turun (social sinking atau downward mobility) 
adalah peralihan individu atau objek-objek sosial menuju pada tingkat yang lebih rendah. Adapun yang menjadi ciri-ciri mobilitas ini adalah sebagai berikut.

  • Turunnya kedudukan sosial individu ke kedudukan yang lebih rendah derajatnya.
  • Turunnya derajat sekelompok individu yang dapat berupa disintegrasi dalam kelompok sebagai suatu kesatuan.

Di samping itu, kita juga dapat membedakan mobilitas vertikal ini atas mobilitas vertikal intragenerasi dan mobilitas vertikal antargenerasi.
a. Mobilitas vertikal intragenerasi 
adalah mobilitas vertikal yang terjadi dalam diri seseorang atau mobilitas yang dialami oleh orang itu sendiri. Misalnya bekerja di perusahaan itu Resita adalah seseorang yang bekerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jurnalistik. Pada awalnya, ia melamar dan diterima sebagai reporter atau wartawan. Karena prestasinya, dua tahun kemudian ia dinaikkan kedudukannya sebagai redaktur. Setelah dua tahun menjadi redaktur, dirinya dinilai pantas untuk menduduki jabatan sebagai pimpinan redaksi, dikarenakan dedikasinya kepada perusahaan sangat baik.
Dalam hal ini, Resita mengalami mobilitas vertikal intragenerasi naik. Selain itu juga ada mobilitas vertikal intragenerasi turun. Contohnya adalah yang diturunkan pangkatnya atau bahkan dikeluarkan (desersi)dari kesatuan karena menyalahgunakan kekuasaan seorang anggota militer.
b. Mobilitas vertikal antargenerasi 
adalah mobilitas vertikal yang terjadi antara dua generasi atau lebih. Misalnya generasi ayah–ibu, generasi anak, generasi cucu dan seterusnya, atau generasi sekarang dengan generasi terdahulu. Contohnya, zaman dulu ayahnya adalah seorang buruh tani yang tidak berpendidikan dan miskin, tetapi ia berhasil mendidik dan menyekolahkan anaknya, sehingga anaknya menjadi seorang sarjana dan kemudian menjadi seorang pengusaha sukses yang kaya.
2. Prinsip Umum Mobilitas Vertikal
Berdasarkan penjelasan mengenai mobilitas vertikal di atas, perlu kamu ketahui bahwa Pitirim A. Sorokin mengemukakan adanya beberapa prinsip umum yang sangat penting bagi mobilitas vertikal, antara lain sebagai berikut.

  • Hampir tidak ada masyarakat yang sifat sistem pelapisannya secara mutlak tertutup, sekalipun itu pada masyarakat yang memakai tipe kasta seperti di India, walaupun mobilitas sosialnya hampir tidak tampak, namun diyakini proses mobilitas sosial vertikal ini pasti ada.
  • Betapapun terbukanya sistem pelapisan sosial dalam suatu masyarakat, tidak mungkin mobilitas sosial vertikal dapat dilakukan sebebas-bebasnya, atau dengan kata lain sedikit banyak pasti ada hambatannya.
  • Tidak ada mobilitas sosial vertikal yang umum yang berlaku bagi semua masyarakat. Setiap masyarakat memiliki ciri-ciri khas dalam mobilitas sosial vertikal.
  • Laju mobilitas sosial vertikal yang disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi, politik, serta pekerjaan adalah berbeda-beda.
Wednesday, November 8, 2017
KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER MENURUT ISLAM

KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER MENURUT ISLAM


Konsep Dasar Pendidikan Karakter Menurut Islami


Konsep Dasar Pendidikan Karakter Islami

Pengertian dan Tujuan

Dasar pembentukan karakter manusia
Urgensi pembentukan karakter bangsa
Urgensi pembentukan karakter Islami

Apa Itu Karakter?
karakter secara harfiyah berasal dari bahasa Latin “character”, yang berarti: watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan, budi pekerti, kepribadian atau akhlak.
Secara istilah karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya di mana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Jadi karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat-istiadat.
Karakter = akhlak dan budi pekerti. Karakter bangsa identik dengan akhlak bangsa/budi pekerti bangsa. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang berakhlak dan berbudi pekerti, sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku yang baik.
Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah penanaman nilai esensial dengan  pembelajaran dan pendampingan sehingga para siswa sebagai individu mampu memahami, mengalami, dan mengintegrasikan nilai yang menjadi core values ke dalam kepribadiannya. Pendidikan karakter dalam grand desain pendidikan karakter, adalah proses pembudayaan dan pemberdayaan nilai-nilai luhur dalam lingkungan satuan pendidikan (sekolah), lingkungan keluarga, dan lingkungan masyarakat
Pendidikan karakter dalam Islam dapat dipahami sebagai upaya penanaman kecerdasan kepada anak didik dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati dirinya, diwujudkan dalam interaksi dengan Tuhannya, diri sendiri, antarsesama, dan lingkungannya sebagai manifestasi hamba dan khalifah Allah
Manifestasi hamba dan khalifah-Nya
Sesuai dengan al-Dhariyat (51): 56; al-Bayyinah (98): 5;dan al-Baqarah (2): 30.
Maka hanya orang yang bertakwalah yang mampu menunjukkan sebagai pribadi hamba dan khalifah Allah.
Jadi, tujuan pendidikan karakter Islami: menjadikan anak didik sebagai hamba dan khalifah Allah yang berkualitas taqwa. Pekerjaan atau aktifitas taqwa meliputi semua bidang mulai dari keyakinan hidup, ibadah, moralitas, aktifitas interaksi sosial, cara berfikir, hingga gaya hidup.
Indikator orang berkualitas taqwa menurut al-Qur’an:
1.Memiliki keyakinan yang membara dan kuat bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu (QS. 2: 3)
2.Memiliki perspektif jangka panjang. Kebiasaan memandang jauh ke depan sehingga menjadi pribadi yang proaktif (QS. 59: 18)
3.Memiliki obsesi dan cita-cita yang sangat tinggi. Berambisi menjadi orang yang berilmu dan berharta untuk didayagunakan di jalan kebaikan untuk mencapi ridho Allah (QS. 2: 218)
4.Mempunyai speed dalam berprestasi; selalu mengejar mutu pada semua aspek kepribadian; keunggulan dan kesempurnaan selalu menjadi standar dalam meningkatkan kualitas diri, sehingga peluang besar menuju kesuksesan akan dapat diraih (QS. 3: 153; QS. 5: 48)
5.Selalu berobsesi menjadi yang terdepan. Siap memasuki medan kompetisi dalam kebaikan secara sehat dan konstruktif. Dunia dijadikan sarana mengabdi dan mendekat kepada Allah dan berbuat amal kebaikan kepada sesama. Orang yang bertaqwa tidak layak bekerja, berusaha, berprestasi seadanya, tanpa greget, tanpa target, dan tanpa kualitas unggul (QS. 5: 48; QS. 23: 61)
6.Waktu-waktunya efektif dan produktif; membiasakan bekerja dengan tingkat efesiensi, efektifitas, dan produktifitas tinggi. Meninggalkan segalaperkataan dan tindakan yang tidak bermanfaat (QS. 23: 1 dan 3)
7.Memiliki semangat kolektif dan kolaboratif. Kebersamaan, sinergi, dan harmoni menjadi watak kehidupan sebagaimana alam ini diciptakan. Mewujudkan keunggulan dalam kebaikan akan mudah diraih dengan kemampuan bekerjasama dan tolong menolong dengan sesama (QS. 5: 3)
Dasar Pembentukan Karakter
Sifat dasar manusia yang diberikan Allah adalah sifat fujur (cenderung kepada keburukan/kefasikan) dan sifat taqwa (cenderung kepada kebaikan), sebagaimana QS. Al-Shams, 91: 7-8. kedua sifat inilah yang menjadi dasar pembentukan karakter (nilai baik atau buruk). Nilai baik disimbolkan dengan nilai malaikat dan nilai buruk disimbolkan dengan nilai setan. Karakter manusia adalah hasil tarik menarik antara kedua nilai tersebut dalam bentuk energi positif dan negatif.
Energi positif berupa nilai-nilai etis religius yang bersumber dari keyakinan terhadap Tuhan, sebaliknya energi negatif berupa nilai-nilai a moral yang bersumber dari taghut (setan). Nilai etis berfungsi sebagai sarana pemurnian, penyucian dan pembangkitan nilai-nilai kemanusiaan yang sejati (hati nurani).
Energi Positif, berupa:
1.Kekuatan spiritual; iman, islam, ihsan, dan taqwa untuk mencapai ahsani taqwim (makhluq etis dan kemanusiaannya yang hakiki)
2.Kekuatan kemanusiaan positif; aqlu as-salim, qalbun salim, qalbun munib (hati yang kembali, bersih, suci dari dosa), dan nafsu mutmainnah (jiwa yang tenang). Kesemuanya merupakan modal insani/SDM yang memiliki kekuatan luar biasa.
3.Sikap dan perilaku etis (merupakan implementasi dari kekuatan spiritual dan kepribadian manusia, berupa; istiqamah (integritas), ihlas, jihad, dan amal salih.
Energi positif ini dalam perspektif individu akan melahirkan orang yang berkarakter, yi orang yang bertaqwa, berintegritas (nafsu mutmainnah), dan beramal shalih. Aktualisasi orang berkualitas ini dalam hidup dan bekerja akan melahirkan akhlaq yang luhur karena memiliki personality (integritas, komitmen dan dedikasi), capacity (kecakapan), dan competency yang bagus pula (profesional)
Energi Negatif; disimbolkan dengan kekuatan materialistik dan nilai-nilai thaghut (nilai-nilai destruktif) yang fungsinya sebagai pembusukan dan penggelapan nilai-nilai kemanusiaan. Berupa:
1.Kekuatan taghut; kufr, munafiq, fasik, dan shirik. Kekuatan yang menjauhkan manusia dari ahsani taqwim menjadi makhluk yang serba material (asfala safilin)
2.Kekuatan kemanusiaan negatif; pikiran jahiliyyah (pikiran sehat), qalbun marid (hati sakit, tidak merasa), qalbun mayyit (mati, tidak bernurani), dan nafsu al-lawwamah, yang menjadikan manusia menghamba pada ilah-ilah selain Allah berupa harta, seks, dan kekuasaan (taghut).
3.Sikap dan perilaku tidak etis (implementasi kedua kekuatan yang dapat melahirkan konsep-konsep normatif tentang nilai-nilai budaya busuk. Meliputi: takabbur, hubb ad-dunya (materialistik), zalim, dan a’mal as-sayyi`at (destruktif)
Akan melahirkan pribadi berkarakter buruk, yang puncak keburukannya meliputi shirik, nafs lawwamah, dan a’mal sayyiat. Aktualisasinya melahirkan perilaku tercela, yi orang yang berkepribadian tidak bagus (hipokrit, penghianat, dan pengecut) dan tidak mampu mendayagunakan kompetensi yang dimiliki.
Urgensi Pendidikan Karakter Bangsa
1.Memudarnya nasionalisme dan jati diri bangsa
2.Merosotnya harkat dan martabat bangsa
3.Mentalitas bangsa yang buruk
4.Krisis multidimensional
5.Degradasi moral perusak karakter bangsa
Memudarnya nasionalisme dan jati diri bangsa
Nasionalisme:  cinta tanah air, bangsa, dan negara; rela berjuang dan berkorban untuk kejayaannya; ada heroisme, altruisme dan patriotisme; mengesampingkan individualisme, hedonisme, dan sparatisme.
Indikator:
1.Berkembangnya individualisme, hedonisme, terorisme dan sparatisme;
2.untuk berebut menjadi pejabat/PNS/dll harus menyuap (bukan abdi negara, tapi penghianat, bukan pejuang tapi pecundang);
3.munculnya sparatisme, terorisme, dan berkembangnya ideologi trans-nasional yang mengingkari paham kebangsaan, cinta tanah air dan negara;
4.enggan memakai produksi dalam negeri.
Merosotnya harkat dan martabat bangsa
Indonesia sejatinya bangsa dan negara besar serta berpredikat positif, namun semua itu sirna karena predikat baru yang negatif seperti terkorup, bangsa yang soft nation, malas, sarang teroris, hilang keramah-tamahannya, banyak kerusuhan, banyak bencana, dls.
Fenomena lain: “menjadi bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa” atau menjadi bangsa pengemis dan pengemis di antara bangsa-bangsa”. Faktanya, Indonesia negara pengekspor kuli/babu/tenaga kasar/unskill terbesar (mendatangkan devisa, tapi madharatnya lebih besar)
Mentalitas bangsa yang buruk
Indonesia memiliki modal/kekuatan yang memadai untuk menjadi bangsa besar dan negara yang kuat; luas wilayah,jumlah penduduk, kekayaan alam, kekayaan budaya, kesatuan bahasa, ketaatan pada ajaran agama, dan sistem pemerintahan republik yang demokratis. Namun semua itu tak akan ada arti jika mentalitas bangsanya belum terbangun dan belum berubah ke arah yang lebih baik. Mentalitas penghambat tersebut di antaranya: malas, tidak disiplin, suka melanggar aturan, aji mumpung, suka menerabas, dan nepotisme.
Media yang ampuh untuk merubah mentalitas bangsa adalah pendidikan dan keyakinan agama. Pendidikan? Pendidikan yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, bukan sekedar formalitas atau kepura-puraan. Pendidikan agama yang mampu menanamkan keimanan yang benar, ibadah yang benar dan akhlakul karimah, niscaya menjadikan anak didik sebagai manusia terbaik, yaitu yang bermanfaat dengan amal shalihnya.
Krisis multidimensional
Permasalahan Indonesia: konflik sosial, sering mengedepankan kekerasan dalam memecahkan masalah, praktik korupsi yang semakin canggih dan massif, perkelahian antar pelajar-mahasiswa-warga-anggota dewan, pelanggaran etika dan susila yang semakin vulgar, munculnya aliran yang dianggap sesat dan cara peyelesaiannya yang cebderung menggunakan kekerasan, tindak kejahatan yang mengancam ketentraman, praktek demokrasi liberal yang ekstrem dalam berbagai aspek kehidupan yang bertabrakan dengan nilai-nilai kepatutan sebagai bangsa Timur dan bangsa yang religius.
Sebagai bangsa muslim terbesar, masalahnya banyak muslim Indonesia yang belum at home sebagai Bangsa Indonesia. Mereka tidak menerima negara pancasila, dan tidak memiliki kemampuan dan keterampilan untuk hidup bersama dalam perbedaan. Dampaknya masih kuat ekslusifitas, maraknya gerakan umat yang kontra produktif, seperti terorisme, gerakan bawah tanah yang bertujuan mengganti bentuk negara, berbagai bentuk pembangkangan dan perlawanan terhadap negara dan pemerintahan yang sah. Akibatnya berangkai, sangat luas, dan kontra produktif bagi bangsa-negara dan umat Islam sendiri.
Permasalahahn di bidang pendidikan…diperparah dengan tayangan televisi yang sangat vulgar, life, dan tidak mengenal waktu tayang. Tindakan memfitnah, memperolok, menghin, mengadu domba, pembunuhan karakter juga difasilitasi oleh media.
Satu kata: Prihatin!
Bagaimana kualitas generasi muda di amsa depan?
Citra dan daya saing bangsa yang semakin rendah dan direndahkan
Stigma muslim yang diidentikkan dengan teroris, anti intelektual, dan anti peradaban
Krisis etika dan moral
Bisa korupsi dianggap prestasi
Penipuan dianggap lumrah asalkan tidak keterlaluan
Hilangnya budaya malu (marwah)
Jujur ajur
Berbohong biasa
Hilangnya keperawanan tidak lagi disesalkan
Politik uang untuk membeli kekuasaan
Berbudi bahasa yang santun dianggap kelemahan dan gak gaul
Agama tidak lagi dipedomani sebagai akhlak melainkan sebagai alat kepentingan dan kekuasaan, dan
Bahasa kekerasan adalah bahasa kekuasaan dan ketertindasan
Degradasi moral perusak karakter bangsa
Eksistensi, kemuliaan dan kejayaan suatu bangsa tergantung akhlaknya. Demikian juga keterpurukan, kehinaan, dan kehancurannya.
Menurut psikolog dan ahli pendidikan AS, Thomas Lichona tanda-tanda degradasi moral:
Meningkatnya kekerasan pada remaja
Penggunaan kata-kata memburuk
Pengaruh peer group (rekan kelompok) yang kuat dalam tindak kekerasan
Meningkatnya penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas
Kaburnya batasan moral baik-buruk
Menurunnya etos kerja
Rendahnya rasahormat kepada orang tua dan guru
Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara
Membudayanya ketidakjujuran
Adanya saling curiga dan kebencian di antara sesama.
Urgensi Pendidikan Karakter Islami
1.Umat muslim merupakan mayoritas penduduk Indonesia. Baik-buruknya Indonesia pasti berdampak pada muslim.
2.Kesenjangan antara muslim cita dan muslim fakta
3.Mengawinkan antara keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan. Mengawinkan ketiganya, seorang muslim akan memiliki tiga kesadaran: kesadaran ideal (keislaman), kesadaran tempat (keindonesiaan), dan kesadaran waktu (kemodernan), diharapkan muslim akan memiliki kearifan, kemuliaan, dan kejayaan.
4.Etika dan moral Islam adalah moralitas agama yang mengarahkan manusia berbuat baik antar sesamanya agar tercipta masyarakat yang baik dan teratur. Berislam yang tidak membuahkan akhlak adalah sia-sia. Menurut Raghib al-Asfahani, etika Islam berbentuk ethical individual social egoism dalam motivasi moral. Maksudnya, etika sosial Islam tidak hendak memasung otoritas individu untuk sosial (paham komutarianisme) atau mengorbankan sosial untuk individu (paham universalisme). Etika Islam harus berlandaskan cita-cita keadilan dan kebebasan individu untuk melakukan kebaikan sosial.
Kesenjangan antara muslim cita dan fakta
Dalam perspektif pembangunan, ada 3 kelompok muslim:
1.Muslim berideologi Islam politik; menjadikan Islam iseologi politik, bertujuan mendirikan negara Islam/khilafah islamiyyah, biasanya bersifat radikal, tidak merasa menjadi Indonesia, sedikit kontribusinya bagi pembangunan, sebaliknya merongrong kedaulatan RI
2.Muslim mistik; disibukkan dengan urusan ritual keagamaan bahkan yang bersifat mistik, tidak mempersoalkan keindonesiaan tetapi juga tidak memberikan kontribusi yang berarti dan tidak juga membahayakan negara
3.Muslim moderat; muslim ideal karena berprinsip keseimbangan antara urusan dunia-akhirat, selalu berusaha menjadi ummatan wasathan, di mana pun berada berusaha memberi manfaat. Ciri muslim moderat: at home di Indonesia, mencintai, berjuang dan rela berkorban untuk bangsa dan negara, dan memberi kontribusi bagi pembangunan.
Ketiganya masih ada, bahkan muslimpolitik semakin menguat pasca reformasi. Dalam konteks pembangunan karakter bangsa, diarahkan untuk menjadi muslim moderat/ideal.
Copyright © 2015 SMA NURUL FALAAH All Right Reserved
Designed by Free Download Info